1.
Rasio Solvabilitas
Pengertian Rasio Solvabilitas
Solvabilitas
suatu perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban
financialnya baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila sekiranya perusahaan
dilikuidasi.
Suatu
perusahaan yang solvable berarti bahwa perusahaan tersebut mempunyai aktiva
atau kekayaan yang cukup untuk membayar semua hutanghutang nya begitu pula
sebaliknya perusahaan yang tidak mempunyai kekayaan yang cukup untuk membayar
hutang-hutangnya disebut perusahaan yang insolvable.
Syafri
(2008:303) menyatakan bahwa Rasio solvabilitas adalah rasio yang menggambarkan
kemampuan perusahaan dalam membayar kewjiban jangka panjangnya/
kewajiban-kewajibannya apabila perusahaan di likuidasi.
Jenis-jenis
Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas
antara lain :
1. Rasio
hutang modal / Debt to Equity Ratio
Rasio hutang
modal menggambarkan sampai sejauh mana modal pemilik dapat menutupi
hutang-hutang kepada pihak luar dan merupakan rasio yang mengukur hingga sejauh
mana perusahaan dibiayai dari hutang. Rasio ini disebut juga rasio leverage.
Rasio
leverage merupakan rasio untuk mengukur seberapa bagus struktur permodalan
perusahaan. Struktur permodalan merupakan pendanaan permanen yang terdiri dari
hutang jangka panjang, saham preferen dan modal pemegang saham (Wahyono,
2002:12).
Struktur
modal adalah pembelanjaan permanen dimana mencerminkan pengimbangan antar
hutang jangka panjang dan modal sendiri. Modal sendiri adalah modal yang
berasal dari perusahaan itu sendiri (cadangan, laba) atau berasal dari
mengambil bagian, peserta, atau pemilik (modal saham, modal peserta dan
lain-lain) (Riyanto, 2008:22).
Jadi dapat
disimpulkan bahwa debt to equity ratio merupakan perbandingan antara total
hutang (hutang lancar dan hutang jangka panjang) dan modal yang menunjukkan
kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya dengan menggunakan modal yang
ada.
Rasio hutang modal dihitung dengan formula:
Debt to equity ratio
Total Hutang
Modal
(equty)
Menurut Syafri (2008:303) semakin kecil rasio hutang
modal maka semakin baik dan untuk
keamanan pihak luar rasio terbaik jika jumlah modal lebih besar dari jumlah
hutang atau minimal sama.
2. Total Asets to Total Debt Ratio/
Debt Ratio
Rasio ini merupakan perbandingan antara total hutang
dengan total aktiva. Sehingga rasio ini menunjukkan sejauh mana hutang dapat
ditutupi oleh aktiva. Menurut Sawir (2008:13) debt ratio merupakan rasio yang
memperlihatkan proposi antara kewajiban yang dimiliki dan seluruh kekayaan yang
dimiliki.
Rasio ini dihitung dengan rumus:
Debt Ratio =
Total Hutang
Total Aktiva
Apabila debt ratio semakin tinggi, sementara proporsi
total aktiva tidak berubah maka hutang yang dimiliki perusahaan semakin besar.
Total hutang semakin besar berarti rasio financial atau rasio kegagalan
perusahaan untuk mengembalikan pinjaman semakin tinggi.
Dan sebaliknya apabila debt ratio semakin kecil maka
hutang yang dimiliki perusahaan juga akan semakin kecil dan ini berarti risiko
financial perusahaan mengembalikan pinjaman juga semakin kecil.
3. Times Interest Earned
Time interest earned merupakan perbandinganantara laba
bersih sebelum bunga dan pajak dengan beban bunga dan merupakan rasio yang
mencerminkan besarnya jaminan keuangan untuk membayar bunga utang jangka
panjang.
Sawir (2008:14) mengatakan bahwa: Rasio ini juga
disebut dengan rasio penutupan (coverage ratio), yang mengukur kemampuan
pemenuhan kewajiban bunga tahunan dengan laba operasi (EBIT) dan mengukur
sejauh mana laba operasi boleh turun tanpa menyebabkan kegagalan dari pemenuhan
kewajiban membayar bunga pinjaman.
Time Interest Earned dapat dihitung dengan rumus:
Time interest Earned = Laba
Bersih Sebelum Bunga dan Pajak
Beban
Bunga
Jadi rasio
solvabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk memenuhi semua kewajibannya,
untuk melunasi seluruh hutangnya yang ada dengan menggunakan seluruh aset yang
dimilikinya apabila sekiranya perusahaan dilikuidasi. Dengan demikian rasio
solvabilitas berpengaruh dengan kinerja keuangan perusahaan sehingga rasio ini
memiliki hubungan dengan harga saham perusahaan. –
2.
Rasio
Provitabilitas
Rasio Provitabilitas merupakan rasio
yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
selama periode tertentu dan juga memberikan gambaran tentang efektifitas
manajemen dalam melaksanakan kegiatan operasinya.
Rasio Provitabilitas merupakan rasio
yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba melalui semua
kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah
karyawan, jumlah cabang dan sebagainya (Syafri,2008 :304).
Jenis-jenis Rasio Profitabilitas
Yang termasuk rasio provitbilitas yaitu :
- Gross Provit Margin (Margin Laba Kotor)
Adalah rasio yang mengukur efisiensi pengendalian
harga pokok atau biaya produsinya,mengindikasikan kemempuan perusahaan untuk
berproduksi secara efisien (Sawir,2009 :18)
Gross Provit Margin merupakan
persentase laba kotor dibandingkan dengan sales. Semakin besar Gross Provit
Margin semakin baik keadaan operasi perusahaan,hal ini menunjukan bahwa
harga pokok penjualan relatif lebih rendah dibandingkan dengan sales, demikian
pula sebaliknya, semakin rendah gross provit margin semalin kurang baik operasi
perusahaan(Syamsudin, 2009 :61)
Rumus :
Gross Profit Margin = Penjualan – Harga Pokok
Penjualan
Penjualan
- Net Profit Margin (Margin Laba Bersih)
Rasio ini mengukur laba bersih setelah pajak terhadap
penjualan. Semakin tinggi net profit margin semakin baik operasi suatu
perusahaan.
Rumus :
Net Profit Margin = Laba Bersih Setelah Pajak
Penjualan
- Rentabilitas ekonomi / daya laba besar/ basic earning power
Merupakan perbandingan laba sebelum pajak terhadap
total asset. Jadi rentabilitas ekonomi mengidentifikasikan seberapa besar
kemampuan asset yang dimiliki untuk menghasilkan tingkat pengembalian atau
pendapatan atau dengan kata lain rentabilitas ekonomi menunjukan kemampuan
total aset dalam menghasilkan laba.
Rumus:
Rentabilitas Ekonomi = Laba Bersih Sebelum Pajak
Total Aktiva
Rentabilitas ekonomi dapat ditentukan dengan
mengalikan operating profit maegin dengan asset turnover. Rendahnya
rentabilitas ekonomi tergantung dari (Sawir,2009:19):
Ø Asset
Turnover
Ø Operating
Provit Margin
Operating provit margin merupakan perbandingan antara
laba usaha dan penjualan.
Merupakan rasio yang menggambarkan apa yang biasanya
disebut pure profit yang diterima atas setiap rupiah dari penjualan yang
dilakukan(Syamsuddin,2009:61).
4. Return on Investment
Return on investment merupakan
perbandingan antara laba bersih setelah pajak dengan total aktiva. Return on
investment adalah merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan secara
keseluruhan didalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan aktiva
yang tersedia didalam perusahaan (Syamsuddin, 2009:63).
Semakin tinggi rasio ini semakin baik keadaan suatu
perusahaan. Return on investment merupakan rasio yang menunjukkan berapa besar
laba bersih diperoleh perusahaan bila di ukur dari nilai aktiva (Syafri,
2008:63).
Return on Investment dihitung dengan rumus:
ROI = Laba Bersih Setelah Pajak
Total Aktiva
Atau dapat juga dihitung dengan: ROI
= Net profit margin x Assets turn over
5. Return on Equity
Return on equity merupakan perbandingan antara laba
bersih sesudah pajak dengan total ekuitas. Return on equity merupakan suatu
pengukuran dari penghasilan (income) yang tersedia bagi para pemilik perusahaan
(baik pemegang saham biasa maupun pemegang saham preferen) atas modal yang
mereka investasikan di dalam perusahaan (Syafri, 2008:305).
Return on equity adalah rasio yang memperlihatkan sejauh manakah
perusahaan mengelola modal sendiri (net worth) secara efektif, mengukur tingkat
keuntungan dari investasi yang telah dilakukan pemilik modal sendiri atau
pemegang saham perusahaan (Sawir 2009:20).
ROE menunjukkan rentabilitas modal sendiri atau yang sering disebut
rentabilitas usaha.
Return on equity dapat dihitung dengan formula:
Return On Equity = Laba Bersih Setelah
Pajak
Ekuitas
6. Earning per share (EPS)
Earning per share adalah rasio yang
menunjukkan berapa besar kemampuan perlembar saham dalam menghasilkan laba
(Syafri, 2008:306).
Earning per share merupakan rasio yang menggambarkan
jumlah rupiah yang diperoleh untuk setiap lembar saham biasa (Syamsuddin,
2009:66). Oleh karena itu pada umumnya manajemen perusahaan, pemegang saham
biasa dan calon pemegang saham sangat tertarik akan earning per share. Earning
per share adalah suatu indikator keberhasilan perusahaan.
Earning per share dihitung dengan rumus:
EPS = Laba Bersih Setelah
Pajak – Deviden Saham Preferen
Jumlah Saham Biasa Yang Beredar
Profitabilitas
adalah kemapuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungan dengan penjualan,
total aktiva, maupun modal sendiri. Bagi yang mau lebih lanjut mari kita
teruskan
Berikut contohnya laporan rugi labanya :
PT. MAUNYA LABA
|
Penjualan Bersih
|
112.760.000
|
|
Harga Pokok Penjualan (HPP)
|
(85.300.000)
|
|
Laba Kotor
|
27.460.000
|
|
Biaya Pemasaran (6.540.000)
|
|
|
Biaya Admin&Umum (9.400.000)
|
|
|
Biaya Operasional
|
(15.940.000)
|
|
Laba sebelum bunga & Pajak
(EBIT)
|
11.520.000
|
|
Bunga Hutang (jika ada)
|
(3.160.000)
|
|
Laba Sebelum Pajak (EBT)
|
8.360.000
|
|
Pajak Pendapatan (48%) atas EBT
|
(4.013.000)
|
|
Laba setelah pajak
|
4.347.000
|
Catatan:
Total Aktiva PT MAUNYA LABA = Rp81.890.000,-
Adapun Rasio Profitabilitas yang akan dipakai adalah:
- Gross profit margin
- Net profit margin
- Return on Investment (ROI)
Gross Profit Margin
Gross Profit Margin = (Penjualan - HPP) / Penjualan Atau
Gross Profit Margin = Laba Kotor / Penjualan
Gross Profit Margin = 27.460.000 / 112.760.000 = 0,2435 = 24,35%
Gross Profit margin = 24,35%
artinya bahwa setiap Rp1,- (satu rupiah) penjualan mampu menghasilkan laba kotor sebesar Rp0,2435. Semakin tinggi profitabilitasnya berarti semakin baik. Tetapi pada penghitungan Gross Profit Margin, sangat dipengaruhi oleh HPP, sebab semakin besar HPP, maka akan semakin kecil Gross Profit Margin yang dihasilkan.
Gross Profit Margin = Laba Kotor / Penjualan
Gross Profit Margin = 27.460.000 / 112.760.000 = 0,2435 = 24,35%
Gross Profit margin = 24,35%
artinya bahwa setiap Rp1,- (satu rupiah) penjualan mampu menghasilkan laba kotor sebesar Rp0,2435. Semakin tinggi profitabilitasnya berarti semakin baik. Tetapi pada penghitungan Gross Profit Margin, sangat dipengaruhi oleh HPP, sebab semakin besar HPP, maka akan semakin kecil Gross Profit Margin yang dihasilkan.
Net Profit Margin
Net Profit Margin = Laba setelah pajak (EAT)/Penjualan
Net Profit Margin = 4.347.000 / 112.760.000 = Rp0,0386 = 3,86%
Apabila Gross Profit Margin selama suatu periode tidak berubah, sedangkan Net Profit Marginnya mengalami penurunan, berarti biaya meningkat relatif besar dibanding dengan peningkatan penjualan.
Return On Investment (ROI) atau Return on Assets (ROA)
ROI = Laba setelah pajak (EAT) / Total Aktiva
ROI = 4.347.000 / 81.890.000 = Rp0,0531 = 5,31%
ROI = 5,31%
artinya menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan
laba dari aktiva yang dipergunakan, berarti dengan Rp1000,- aktiva akan
menghasilkan laba bersih setelah pajak Rp53,10 atau dengan Rp1,- menghasilkan
laba bersih (EAT) Rp0,0531,-
3.
RASIO
PASAR
Pada
umumnya rasio keungan terdiri dari rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio
leverage, dan rasio profitabilitas, dan rasio profitibilitas. Namun rasio
keuangan yang akan digunakan untuk mengetahui perkembangan kinerja keuangan PT
Kedawung Setia Industrial Tbk ini adalah rasio pasar.
Rasio
ini merupakan indicator untuk mengukur mahal murahnya suatu saham, ukuran
prestasi perusahaan yang dipaling lengkap bagi para pemegang saham, serta dapat
membantu investor dalam mencari saham yang memiliki potensi keuntungan dividen
yang bessar sebelum melakukan penaman modal berupa saham. Namun rasio pasar
tidak mempunyai ukuran yang menunjukan tingkat efesiensi rasio serta tidak
dapat mencerminkan kinerja keuangan perusahaan secara keseluruhan jika dilihat
berdasarkan harga saham maupun jika dipergunakan oleh pihak manajemen
perusahaan.
Rasio
pasar merupakan sekumpulan rasio yang nghubungkan harga saham dengan laba dan
nilai buku per saham. Rasio ini memberikan petunjuk mengenai apa yang
dipikirkan invenstor atas kinerja perusahaan di masa lalu serta prospek di masa
mendatang (Moeljadi, 2006:75).
Rasio
ini memberikan informasi seberapa besar masyarakat (investor) atau para
pemegang saham menghargai perusahaan, sehingga mereka mau membeli saham
perusahaan dengan harga yang lebih tinggi disbanding dengan nilai buku saham
(Sutrisno, 2003:256).
Menurut
Hanafi (2004:43). Rasio pasar mengukur harga pasar saham perusahaan, relative
terhadap nilai bukunya. Sudut pandang rasio ini lebih banyak berdasar pada
sudut pandang investor ataupun calon investor, meskipun pihak manajemen, juga
berkepentingan rasio ini. Rasio modal saham atau rasio pasar terdiri dari:
1.
Rasio Pendapatan Per Lembar Saham (Earning Per Share)
Menurut
Alwi (2003:77), Earning Per Share (EPS) biasanya menjadi perhatian pemegang
saham pada umumnya atau calon pemegang saham dan manajmeen. EPS menunjukan
jumlah uang yang dihasilkan (return) dari seti lembar saham. Semakin besar
nilai EPS semakin besar keuntungan yang diterima pemegang saham.
Seorang
investor membeli dan mempertahankan saham suatu perusahaan dengan harapan akan
memperoleh deviden atau capital gain. Laba biasanya menjadi dasar penentuan
pembayaran deviden dan kenaikan harga saham di masa mendatang. Oleh karena itu,
para pemegang saham biasanya tertarik dengan angka EPS yang dilaporkan
perusahaan. EPS hanya dihitung untuk saham biasa (Prastowo, 2005:93).
EPS
= Laba Bersih - deviden saham istemewa
Rata-rata
tertimbang jumlah lembar saham biasa yang beredar
2.
Rasio Harga Laba (Price Earning Ratio)
Menurut
Moeljadi (2006:75), Price Earning Ratio (PER) menunjukan berapa banyak investor
bersedia membayar untuk tiap rupiah dari laba yang dilaporkan.
Oleh
para investor rasio ini digunakan untuk memprediksi kemampuan perusahaan dalam
menghasilakan laba di masa yang akan datang. Kesedian para investor untuk
menerima kenaikan PER sangat bergantung pada prospek perusahaan. Perusahaan
dengan peluang tingkat pertumbuhan yang tingi, biasanya memiliki PER yang
tinggi. Sebaliknya perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang rendah cenderung
memiliki PER yang rendah pula (Prastowo 2005:96)
PER = Harga
pasar per lembar saham X 1
Kali
Pendapatan per lembar saham
3.
Rasio Pasar Per Buku (Market To Book Value Ratio)
Rasio
ini menunjukan berapa besar nilai perusahaan dari apa yang telah atau sedang
ditanamkan oleh pemilik perusahaan, semakin tinggi rasio ini, semakin besar
tambahan wealth (kekayaan) yang dinikmati oleh pemilik perusahaan (Husnan,
2006:76)
Menurut
prastowo (2005:99),jika harga pasar berada di bawah nilai bukunya, investor
memandang bahwa perusahaan tidak cukup potensial. Bila seorang investor
pesimistik atau prospek suatu saham, banyak saham dijual pada harga di bawah
nilai bukunya. Sebaliknya jika investor optimistic maka saham dijual dengan
harga di atas nilai bukunya.
MBV
= Harga pasar per saham X 1
Kali
Nilai
buku per saham
Book
value per share (nilai buku per saham) dihitung dengan membagi ekuitas saham
biasa dengan jumlah saham yang berdedar (Moeljadi, 2006:75)
4.
Rasio Pendapatan Deviden (Dividend Yield Ratio)
Dividend
Yield adalah dividen yang dibayarkan dibagi dengan harga saham sekarang (Jones,
2004:41). Dividend yield dinyatakan dalam bentuk persentase yang merupakan
salah satu komponen dari total return (Total Return = Yield + Price Change).
Dividen yield merupakan sebagian dari total
return yang akan diperoleh investor. Biasanya perusahaan yang mempunyai prospek
pertumbuhan yang tinggi akan mempunyai dividend yield yang rendah, karena
dividen sebagian besar akan diinvestasikan kembali. Kemudian karena perusahaan
dengan prospek yang tinggi akan mempunyai harga pasar saham yang tinggi, yang
berarti pembaginya tinggi, maka dividend yield untuk perusahaan macam ini akan
cenderung lebih rendah (Hanafi, 2004:43)
DY
=(Dividen per lembar saham/ Harga per lembar saham)X100%
5.
Rasio Pembayaran Dividen (Dividend Payout Ratio)
Rasio
ini melihat bagian pendapatan yang dibayarkan sebagai dividen kepada investor.
Bagian lain yang tidak dibagikan akan diinvestasikan kembali ke perusahaan
(Hanafi, 2004:44)
Perusahaan
yang mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi akan mempunyai rasio pembayaran
dividen yang rendah. Sebaliknya perusahaan yang tingkat pertumbuhannya rendah
akan mempunyai raio yang tinggi. Pembayaran dividen juga merupakan kebijakan
dividen perusahaan. Menurut Alwi (2003:78), semakin besar rasio ini maka
semakin lambat atau kecil pertumbuhan pendapatan perusahaan.
DPR
=Dividen per lembar sahamX100%
Pendapatan
per lembar saham
REFERENSI